Creative Mind : Kekuatan Visualisasi

Albert Einstein pernah berkata bahwa "Kata, bahasa, ucapan, tulisan, tidak mengendalikan mekanisme pikiran. Imajinasi lebih utama. Visualisasi adalah pola pikir kinestetik paling handal." Kutipan kalimat Einstein tersebut menjadi kalimat yang terdapat pada sampul (cover) buku yang berjudul "Creative Mind: Kekuatan Visualisasi". Buku ini ditulis oleh seorang anggota senior Mensa Indonesia yaitu Tut Sayogya. Sedangkan penerbit buku ini adalah Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta, dan diterbitkan sejak bulan September tahun 2008 dengan ISBN: 9789792735963. Dari judulnya itu dapat langsung ditebak kalo buku ini bergenre psikologi.
.
Didalam buku ini ditunjukkan bahwa suksesnya seseorang diawali dari sebuah visualisasi. Visualisasi dari apa yang dicita-citakan. Ajak anak Anda untuk memulai memvisualisasikan cita-citanya. Namun demikian, kesuksesan perlu upaya dan niat, bukannya menunggu sampai sukses datang sendiri mengetuk pintu rumah Anda.
.
Buku ini memuat pengalaman beberapa orang terkenal di negeri ini, yang kesuksesannya berawal dari imajinasi dan visualisasi. Ada Sandra Dewi, Andrie Wongso, GM Sudharta, Kris Dayanti, Tung Desem Waringin, Ivan Gunawan, Demian Aditya, dan beliau sendiri.:) Semua pengalaman tersebut dimuat di bagian awal buku sebelum Kata Pengantar dan Pendahuluan.
.

Buku Creative Mind dan Bu Tut Sayogya
beserta teman-teman Mensa Indonesia
.
Secara struktur, buku ini terdiri dari tujuh bab. Uniknya, setiap bab tidak diberi judul tersendiri. Justru sub-bab yang mempunyai judul.
.
Bab Pertama menceritakan seputar misi kehidupan, sistem pendidikan, belajar befikir, paradigma masyarakat (membahas perbedaan karakter), niat dan mengubah pola pikir. Dalam sub-bab Sistem Pendidikan, buku ini membahas tentang peringkat pendidikan nasional, rangking kelas 1-5 SD, sistem pendidikan itu sendiri, pengalaman spiritual, identitas dan integritas guru, integritas anti-korupsi, dan tentang pendidikan anak usia dini. Sedangkan dalam sub-bab Niat, buku ini membahas tentang pengalaman krisis, pendekatan spiritual, tentang kejadian ajaran sang bijak, dan realitas quantum. Akhirnya bab pertama ini ditutup dengan sub-bab tentang pengubahan pola-pikir yang membahas mengenai pengubahan mindset, transformasi pikiran dan pembahasan tentang siapa diri kita.
.
Dalam bab kedua, yang dibahas adalah mengenai Hukum Ketertarikan yang dialami sendiri oleh penulis buku ini, yaitu Bu Tut Sayogya. Dalam sub-bab hukum ketertarikan ini, ada pembahasan tentang getaran (perasaan), ketertarikan pada kemiripan, rahasia alami, semesta berkelimpahan, visualisasi hukum ketertarikan, ada juga kisah hidup Danielle beserta kupasan kehidupannya.
.
Nah, dalam pembahasan tentang hukum ketertarikan ini, khususnya di halaman 39 buku ini, ada kutipan bagus dari Catherine Ponder, Dynamic Law of Prosperity yaitu bahwa ”Segala sesuatu yang Anda pancarkan lewat pikiran, perasaan, pencitraan mental, dan tutur kata, akan didatangkan kembali ke dalam kehidupan Anda.”
.
Definisi hukum ketertarikan itu sendiri adalah segala sesuatu yang Anda pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran, baik hal yang positif maupun negatif, akan hadir dalam kehidupan Anda sendiri. Anda pasti pernah merasakannya. Pernahkan Anda menginginkan sesuatu, kemudian tiba-tiba apa yang Anda inginkan hadir di depan mata. Mungkin ada faktor nasib atau keberuntungan, Anda ketemu denganklien kelas kakap atau jodoh Anda. Semua pengalaman ini membuktikan tentang adanya pengaruh nyata, dari hukum ketertarikan.
.
Dalam bab ketiga, terdiri dari dua sub-bab, yaitu sub-bab perangkat keras dan pikiran bawah sadar (yang membahas tentang teknik efektif pemrograman ulang). Dalam sub-bab perangkat keras terdiri dari pembahasan tentang fungsi otak manusia, ekspresi manusia, dan lidi.
.
Dalam bab keempat, yang merupakan inti buku ini, terdiri dari delapan sub-bab, yang terdiri dari pembahasan tentang kedahsyatan kreativitas, latihan visualisasi, cara melihat bentuk, potensi memandang menjadi potensi melihat (tentang perbedaan makna dan antara obyek dan subyek), pikiran dan fisik (tentang ritme ultradian dan jam biologi), berfikir melalui perkataan, metode berfikir visual, visualisasi mistik dan keajaiban.
.
Pada sub-bab dahsyatnya kreativitas terdiri dari bahasan kreatifitas maksimum, makna kreatif, 7-langkah kreatif. Dalam sub-bab ini terdapat latihan doodling dan scribbling. Trus pada sub-bab latihan visualisasi terdiri dari bahasan tentang perekaman data, khususnya untuk musuh dalam selimut, trus perbandingan antara otak intelek dan otak visual, visualisasi objek, dan respon terhadap warna kontras. Sedangkan pada sub-bab melihat bentuk terdiri dari siluet sebagai alat pencari dan perbandingan gambar anak kecil dengan orang dewasa.
.
Pada sub-bab metode berfikir visual dibahas tentang penggunaannya dalam teori evolusi, bidang olahraga, bidang teknologi, bidang seni, dan dalam pengembangan imajinasi. Sedangkan dalam sub-bab visualisasi mistik dan keajaiban dibahas tentang patologi imajinasi, humanisme televisi, dan pentingnya perhatian orangtua.
.
Nah, di sub-bab visualisasi mistik dan keajaiban dalam bab keempat ini, terdapat kutipan menarik di halaman 105 buku ini, yaitu “Pengaburan batas antara fakta dan fiksi, akan melahirkan patologi imajinasi. Anak akan merekam objek imaji yang tidak riil sebagai suatu tuntutan terhadap realitas”(Jean Paul Sartre, The Psychology of Imagination)
.
Bagi anak-anak, kisah yang teramat sadis menjadi tidak manusiawi lagi, dan kisah yang tidak manusiawi menjadi tidak bisa diamalkan oleh mereka, karena tidak dapat diamalkan, mereka enggan mengetahuinya? Untuk apa diketahui kalau tidak bisa dicontoh? Itulah sebabnya, kita memerlukan kisah-kisah yang masih murni atau kisah-kisah yang benar.
.
Mengetahui manfaat pentingnya menghadirkan kebenaran dalam sebuah dongeng, membuat kita rasanya perlu menilik kembali kebiasaan masyarakat untuk menghadirkan kisah, cerita atau dongeng. Si Entong, misalnya, sebagai sinetron anak yang tayang perdana di stasiun televisi swasta 17 April 2006, langsung menyihir perhatian anak-anak. Dalam tempo singkat, ratingnya pun melonjak hingga mengantongoi tak kurang dari 165 episode. Sukses proses perekaman ini terjadi, seusai Si Entong, kemudian televisi kita menhadirkan sinetron serupa berjudul Samsonwati, kemudian menyusul pula Eneng dan Kaos Kaki Ajaib, Si Eneng dan Monyet Cantik dan sinetron khayalan lainnya.
.
Dalam sinetron, akal nyaris tidak mendapat tempat. Sebagai contoh, serial Si Entong misalnya, banyak adegan keajaiban di sana. Judulnya diembel-embeli dengan kata-kata ajaib; kotak ajaib, pancing ajaib, pos ajaib, baju ajaib dan kursi ajaib. Di sinilah persoalan itu kemudian timbul. Sinetron dengan tema sentral kejaiban mengacak-acak logika dan sistematika berpikir anak. Entah disadari atau tidak, kelak sinetron tersebut akan melahirkan generasi bersumbu pendek. Sebuah generasi yang berpikir instan yang merindukan keajaiban sebagai solusi dari segala permasalahan yang dihadapinya. Cerita khayal memang mengembangkan imajinasi anak, namun ketika cerita tersebut mengaburkan anatara fakta dan fiksi, sudah tentu harus dihindari agar mereka tidak terserang patologi imajinasi, di mana hal yang sudah berada dalam kepala mereka, tidak mampu benar-benar mereka bandingkan dengan kondisi realitas yang sesungguhnya.
.
Dalam bab kelima, terdiri dari tiga sub-bab, yaitu hypnosis harian, hypnotisme, serta imunisasi dan visualisasi. Di sub-bab hypnosis harian dijelaskan mengenai efek positif hypnosis, melatih fokus, peranan hypnoterapi, visualisasi positif, proses pembersihan, kesehatan, hari baik dan hari buruk, menghypnosis diri sendiri, dan latihan untuk meningkatkan diri, serta latihan mental dengan menggunakan musik sebagai terapi. Sedangkan di sub-bab hypnotisme yang dibahas adalah seputar relaksasi, dukungan dalam perawatan, kooperatif, dan testimoni media, serta studi kasus kanker. Sedangkan di sub-bab imunisasi dan visualisasi yang dibahas adalah testimoni medis, perawatan dengan visualisasi, dan manfaatnya.
.
Dalam bab keenam, bab yang asyik bagi penggemar lukisan, terdiri dari dua sub-bab yang membahas seni sebagai terapi dan ekspresi lukisan. Pada waktu membahas seni sebagai suatu terapi dimulai dengan penjelasan makna dalam lukisan, trus tentang terapi seni itu sendiri serta keberhasilan terapi seni tersebut. Sedangkan dalam pembahasan ekspresi lukisan itu mejelaskan tentang titik fokus lukisan, observasi, contoh gambar, makna warna, maupun tentang aura lukisan maestro. Khusus bab ini berkisar tentang lukisan mungkin disebabkan hobi Bu Tut Sayogya melukis dengan menggunakan cat minyak.
.
Dalam bab terakhir yaitu bab ketujuh, kembali diceritakan kisah sukses orang-orang terkenal yaitu kisah hidup Titiek Puspa, JK Rowling, Madonna, dan Donna Agnesia. Selain itu ada sedikit pembahasan tentang masa depan.
.
Namun ada yang yang menarik dari buku, ternyata buku Creative Mind : Kekuatan Visualisasi karya Bu Tut Sayogya ini beredar juga di Malaysia dengan judul yang agak berbeda, yaitu Visualisasi Minda : Ke Arah Merangsang Pemikiran Kreatif dengan penerbit Casa Delima dan tahun penerbitan tahun 2010 yang baru lalu. Di buku itu tertera kode ISBN-nya: 9789675573019. Berbeda ya dengan kode ISBN buku serupa yang beredar di Indonesia. Di Malaysia buku ini dijual seharga RM17.50 di toko-toko buku di Malaysia.
.

Visualisasi Minda by Tut Sayogya,
Dalam Bahasa Melayu dan Beredar di Malaysia
.
Abstraksi buku tersebut adalah sebagai berikut :
.
"Buku ini dibuktikan bahawa kejayaan seseorang dimulai dari sebuah visualisasi. Visualisasi dari apa yang dicita-citakan. Berilah pendekatan kepada anak-anak anda untuk mula memvisualisasikan cita-citanya. Namun, kejayaan perlukan usaha dan niat, bukan menunggu sehingga kejayaan datang kepada anda. Buku ini memuatkan pengalaman beberapa anak bangsa dan orang-orang ternama, yang kejayaannya bermula dari imaginasi dan visualisasi."
.
Klo melihat abstraksi isinya sih mirip banget buku Creatif Mind karangan Bu Tut juga ya. Jadi, judul dan bahasa diubah pake bahasa Melayu tapi pengarangnya tetap dicantumin nama Bu Tut Sayogya. Cuma anehnya Bu Tut Sayogya sebagai penulis buku tersebut tidak tahu-menahu tentang buku yang beredar di Malaysia itu. Emang giman sih cerita dan isi kontrak beliau dengan penerbit Elex Media Komputindo dahulu? Kok bisa gitu ya? Kasihan juga Bu Tut Sayogya..:( Tapi setidaknya ini sudah membuktikan bahwa Bu Tut Sayogya sudah menjadi penulis berkelas international. :)
.
Kalo kembali ke awal buku ini, kesaksian Sandra Dewi itu cukup menarik. Dia yg sedari kecil sudah memvisualisasikan dirinya sbg bintang film dan sinetron kejar tayang. Cuma mungkin kemampuan tiap orang utk melakukan visualisasi itu berbeda-beda. Ada yg kuat visualisasinya, dalam artian cepat dan detail (sehingga dia tau perkiraan hambatan apa saja yg bakal dijumpai dan bisa mengantisipasinya). Nah, klo si Sandra Dewi itu memang dia punya visualisasi yg kuat. Tp ada yg lemah, dlm artian lambat dan hanya berupa gambaran kasarnya saja. Trus, ada kemungkinan gak bahwa visualisasi itu dapat disharing (misalnya ke orangtua ato orang dekat lainnya) sehingga mereka juga dapat membantu ybs. Visualisasi yg tersebar tentunya dapat menjadi suatu kesadaran universal yg mempunyai daya kinetis yg lebih kuat.
.

Tut Sayogya, anggota Mensa
.
Kalo data fisik buku tersebut, dimensinya 18 x 24 cm, berbahasa Indonesia dan tebalnya 172 halaman. Harganya sekitar Rp 60.000,- Sungguh suatu buku yang bagus untuk dibaca dan dimiliki.

1 komentar:

AM19 mengatakan...

Di mana toko yg menjual buku ini

Google Search Engine
Google