Menghidupkan yang Mati Suri

Harian Seputar Indonesia, Sabtu 31 juli 2010 :
.
APA manfaat mengetahui tingkat kecerdasan? Hanya prestise atau untuk memberi manfaat sebesarbesarnya bagi masyarakat sekitar. Selama ini nilai intelligence quotient (IQ) yang tinggi dianggap sebagai cara untuk meningkatkan prestise dan menunjukkan status bahwa, ”Saya termasuk orangorang yang cerdas.”
.
Kisah Sharon Stone yang sempat mengaku menjadi anggota komunitas Mensa International, tapi ternyata bukan,adalah contoh nyata. Selama bertahun-tahun Stone mengaku memiliki nilai IQ 148 dan merupakan anggota dari komunitas orang-orang cerdas itu. Namun pada April 2002 dia akhirnya mengaku bahwa itu bualannya belaka. Kasus Stone adalah contoh yang jelas bahwa nilai IQ bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan prestise dan status.
.
Lebih mencengangkan lagi adalah mantan bintang film porno, Asia Carrera.Perempuan bernama lengkap Jessica Andrea Steinhauser ini ternyata merupakan salah satu anggota Mensa Internastional dengan nilai IQ 156. Selain Asia Carrera,mantan model panas Julie Peterson juga menjadi anggota Mensa. Foto bugilnya pernah dimuat di majalah Playboy pada 1987.Perempuan yang kini berprofesi sebagai ahli pengobatan itu juga pernah dinobatkan sebagai ”Playmate of the Month” majalah pria ini pada Februari 1987.

Bagi kalangan selebritas, IQ tinggi bisa meningkatkan pamor mereka. Beberapa tokoh dunia bisa disebutkan sebagai daftar. Ada Albert Einstein,yang dikabarkan memiliki nilai IQ 160, kemudian Arnold Schwarzenegger dengan nilai IQ 135. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton memiliki IQ 137, nilai IQ Benjamin Netanyahu fantastis, yakni 180.
.
Adapun George W Bush memiliki skor IQ 125. Hillary Clinton memiliki nilai IQ 121. Shakira memiliki skor IQ 140,dan si jenius Stephen Hawking memiliki skor IQ 160. Dari Indonesia, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani memiliki nilai IQ 157, yang juga tergolong tinggi.
.
Meruntuhkan Stigma
.
Berdasarkan rata-rata tes IQ agregat internasional,umumnya nilai IQ orang Indonesia pada angka 87, yang berada di atas nilai IQ orang Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin,namun berada di bawah nilai IQ orang Asia Timur dan Eropa. Bagaimanapun stigma terkait nilai skor IQ berdasarkan ras masih sangat kontroversial dan menjadi perdebatan.
.
Kenyataannya, menurut Chairman Mensa Indonesia Thomas Hanan Thoha, teori tentang korelasi IQ dengan ras tidak terbukti benar 100%. Bukti nyatanya, ketika Mensa Indonesia melakukan tes IQ pertama pada 1998, dari 500 orang yang mengikuti tes, 300 di antaranya dinyatakan lulus dan layak menjadi anggota Mensa.
.
Hingga kini Mensa Indonesia sudah menyelenggarakan tes IQ lima kali dan berhasil menjaring sekitar 300 anggota.Namun,hanya sedikit di antaranya yang aktif dan berkiprah di Mensa. ”Selama ini kegiatan Mensa menurun karena berbagai alasan, termasuk krisis moneter. Saat ini teman-teman yang masih aktif bisa dihitung dengan jari,”ujar Thomas kepada Seputar Indonesia.
.
Dengan fakta hasil tes IQ orang Indonesia yang berhasil menjaring orang yang layak menjadi anggota Mensa di atas 50% tersebut, Thomas yakin nilai IQ orang Indonesia termasuk tinggi. Meski pada nilai berapa hal itu belum bisa diketahui, karena nilai IQ bersifat sangat privat—hanya diketahui orang yang bersangkutan.

Penilaian pun langsung dilakukan Mensa International di Inggris, sedangkan Mensa Indonesia hanya penyelenggara tes. Kecuali orang yang bersangkutan bermaksud memublikasi hasil tes IQ miliknya. ”Inteligensia ibarat SDA nasional yang belum tergali. Padahal dari hasil uji kasus tes IQ pertama yang kita lakukan, sudah bisa diketahui bagaimana nilai IQ orang Indonesia. Artinya, sayang sekali jika ini tidak dimanfaatkan,” paparnya. Kecerdasan orang Indonesia seharusnya tidak perlu diragukan, apalagi jika hanya karena ukuran tes IQ.
.
Buktinya tidak sedikit olimpiade sains internasional yang dimenangkan anak-anak muda Indonesia. Kontribusi kecerdasan BJ Habibie pun hingga saat ini masih dibutuhkan di Jerman. Dengan demikian, teori tentang kecerdasan berdasarkan ras boleh jadi sudah terbantahkan. Jadi tunggu apa lagi? Ingin membuktikan berapa nilai kecerdasan,maka ikutilah tes IQ. Ada banyak hipotesa terkait kecerdasan. Selama ini kemampuan menghafal dianggap banyak orang sebagai bentuk kecerdasan.
.
Padahal itu berbeda. Menghafal adalah keterampilan yang bisa diasah, sementara kecerdasan adalah kemampuan nalar yang mampu memecahkan suatu masalah. Kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide belumlah dianggap sebagai kecerdasan. Tapi kemampuan orang menemukan solusi atas suatu masalah, itulah kecerdasan. Nilai IQ seseorang bersifat konsisten, tapi syaratnya tes harus diambil di atas usia 14 tahun.Selain itu,tes IQ bukanlah tes,melainkan hanya pengukur sehingga tidak ada yang lulus atau tidak lulus.
.
Nilai IQ menjadi tidak konsisten di antaranya karena faktor grogi atau gugup saat menjalankan tes. Di AS, anggota komunitas Mensa terbiasa melakukan brain storming atas suatu masalah yang dialami masyarakat setempat. Setiap kelompok bidang kajian berdiskusi untuk mencari solusi,yang hasilnya bahkan dimanfaatkan pemerintah untuk menjadi bahan masukan dalam program dan kebijakan. Jika orang-orang cerdas di Indonesia melakukan hal yang sama, tentulah akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebab, filosofi dari kecerdasan seharusnya diarahkan untuk memberikan manfaat bagi kemanusiaan. abdul malik/islahuddin)

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google