Genius dalam Realita Hidup

Sharon Stone, selebriti Holywood yang pasti Anda kenal, bertahun-tahun membanggakan dirinya sebagai anggota Mensa, sampai di tahun 2002, secara resmi Mensa menyatakan bahwa Sharon Stone bukan anggota Mensa, dan tidak pernah menjadi anggota Mensa. Organisasi macam apakah Mensa sehingga Sharon Stone sampai membual menjadi anggotanya, untuk membanggakan dirinya? Mensa adalah organisasi internasional yang syarat penerimaan anggotanya adalah angka IQ (Intelligent Quotient)nya masuk ke dalam 2% tertinggi dalam populasi. Organisasi ini didirkan pertama kali di England di tahun 1946 oleh Rolland Berrill, seorang pelayan minuman di restoran, dan Dr. Lance yang berprofesi sebagai ilmuwan dan ahli hukum. Profesi Dr. Lance wajar dianggap sebagai profesi bagi orang cerdas, tetapi profesi Berrill biasanya dianggap jauh dari menunjukkan kecerdasan. Dilihat dari kedua orang pendiri yang berlatar belakang profesi yang jauh berbeda tersebut, pasti ada sesuatu yang membuat mereka bersepakat mendirikan organisasi Mensa tersebut, yang bukan didasarkan kesombongan intelektual. Karena apabila itu menjadi dasarnya, tentu Dr. Lance tidak mau dikelompokkan dengan seorang pelayan minuman seperti Berrill. Namun tentu saja tidak dapat dihindari bahwa untuk sebagian orang, merasa bangga apabila dirinya termasuk dalam golongan cerdas dengan IQ 2% teratas dari populasi. Hal ini bukanlah sesuatu yang salah, asalkan tidak membual seperti Sharon Stone.
.
Sampai saat ini Mensa mempunyai anggota lebih dari 100.000 orang yang tersebar di lebih dari 100 negara, dan ada 40 negara di mana organisasi Mensanya aktif. Di Indonesia organisasi Mensa dirintis di tahun 1988 oleh beberapa alumni dari suatu sekolah bisnis yang diperkenalkan kepada Mensa oleh seorang diplomat Amerika. Sejak saat itu Mensa Indonesia mengalami masa aktif dan masa tidur, dan baru belakangan ini terlihat geliatnya kembali.
.
Ketika Mensa mengadakan identifikasi IQ baru-baru ini di bulan Juli 2010, beritanya sempat mengisi ruang berita cetak maupun elektronik dan internet. Di ruang berita internet yang terbuka untuk komentar dari pembaca, dapat dilihat cukup banyak tanggapan sinis terhadap usaha mengelompokkan orang-orang cerdas ini. Hal tersebut wajar, apalagi adanya tren belakangan ini yang mengidolakan EQ (Emotional Quotient) yang disebut sebagai lebih penting daripada IQ dalam mencapai kesuksesan. Dan juga muncul berbagai quotient lainnya yang diunggulkan. Karena itu, saat ini mungkin pertanyaan seberapa pentingkah IQ dalam mencapai kesuksesan hidup sering mendapat jawaban merendahkan.
.
Saya termasuk salah seorang yang melalui pengidentifikasian IQ pertama kali oleh Mensa Indonesia di tahun 1988 dan diterima sebagai anggota. Karena itu, saat ini saya bisa melihat dari dua perspektif, baik dalam perspektif helikopter dalam profesi saya sebagai pendidik dan konsultan di bidang bisnis, serta dalam perspektif orang yang berada di dalam komunitas orang cerdas.
.
Saya sering melihat bahwa ada tiga hal yang dinilai penting dalam dunia pekerjaan, pertama adalah potensi orang tersebut untuk menerima tugas-tugas yang makin kompleks dan makin berat secara intelektual, kedua adalah kenyataan kinerja orang tersebut saat ini, dan ketiga adalah kematangan emosional dari orang tersebut. Banyak perdebatan yang mempersoalkan mana yang lebih penting dari ketiga faktor tersebut untuk kesuksesan, tapi dalam kenyataanya ketiganya memainkan peranan yang beda di situasi yang berbeda.
.
Apabila kita mengamati program pembinaan bakat unggul di perusahaan, yang seringkali diistilahkan sebagai High-Potential Talent Management, maka kita dapat yakin bahwa orang-orang yang diidentifikasikan sebagai High-Potential adalah orang-orang dengan IQ tinggi. Orang-orang inilah yang dibina oleh perusahaan dan diharapkan untuk menjadi pemimpin di masa mendatang. Pembinaan yang efektif bagi para bakat unggul adalah pembinaan dalam menghubungkan potensinya dengan hasil nyata di lapangan, serta pembinaan ketrampilan interpersonal yang diperlukan untuk dapat bekerjasama dan membina tim. Tentu di tiap tahap pembinaan ada yang gugur karena tidak dapat dibentuk lagi. Dan kebanyakan kegagalan program yang terjadi pada bakat unggul tersebut pada umumnya adalah faktor ketidak-sabaran dari para bakat unggul tersebut melalui suatu proses yang dianggapnya terlalu lama. Dengan kata lain, kematangan emosional yang kurang menjadi penyebab kegagalan bakat unggul mengikuti program pengembangan. Tetapi tidak berarti bakat unggul tersebut juga menjadi orang gagal di luar program pengembangan tersebut. Banyak bakat unggul yang memang memerlukan lingkungan yang bebas untuk dapat mengembangkan keseluruhan potensi dirinya.
.
Apabila dipermisalkan bahwa kesuksesan adalah perjalanan menuju suatu tempat dengan mengendarai mobil, maka makin tinggi IQ seseorang bagaikan mengendarai mobil yang kaliber mesinnya makin besar, sehingga tentu mempunyai potensi makin cepat mencapai tujuan. Namun di jalan punya realita sendiri, bahwa ada mobil-mobil lain yang masing-masing menuju tujuannya, bersaing dengan mobil kita mendapatkan jalur, dan dengan sengaja atau tidak menghalangi mobil kita meluncur dengan sepenuh tenaga. Apabila berada di jalan bersama pengemudi lain yang mempunyai etika jalan raya, maka ketrampilan yang kita perlukan hanyalah bagaimana bermanuver di antara mobil lain dengan aman, dengan kata lain bagaimana berinteraksi dengan mobil lain dengan sopan. Tetapi apabila kita mengemudi di jalan di Jakarta yang penuh dengan pengemudi yang tidak beretika, maka kita perlu kenekatan salib menyelip yang membutuhkan nyali dan seringkali sama tidak etisnya dengan pengemudi lain. Dalam hal tersebut kaliber mesin mobil bukan hal yang penting lagi, melainkan keberanian mengambil resiko dan melanggar peraturan.
.
Permisalan di atas menunjukkan bahwa bagaimana kecerdasan seseorang mempengaruhi keberhasilan sangat tergantung lingkungan yang terdiri dari orang-orang di sekitarnya dan sistem yang berlaku. Tidak heran di negara-negara maju, kecerdasan seseorang memainkan peranan yang makin penting dalam kesuksesan, demikian pula di perusahaan-perusahaan yang tertata dengan baik.
.
Bagaimana keadaan umumnya di Indonesia? Saya rasa Anda semua dapat menjawab dengan baik, bukan? Tidak heran bahwa banyak manusia cerdas di Indonesia merasa frustrasi dan merasa mendapat penghargaan lebih baik di luar negeri, di mana kecerdasan mereka bisa menjadi suatu keunggulan. Kalaupun bekerja, mereka lebih memilih bekerja di perusahaan multinasional yang umumnya sistemnya lebih jelas, karena jika mereka bekerja di perusahaan lokal yang sistemnya tidak jelas mereka seringkali menjadi korban politik kantor.
.
Dengan demikian, kita dapat memisalkan orang-orang cerdas di Indonesia, termasuk yang tergabung dalam Mensa Indonesia, sebagai sekelompok orang yang mempunyai mobil berkaliber mesin besar, yang bisa diterjunkan dan menjadi harapan bangsa di dalam arena balap dunia internasional, selama kita bisa mengelola persiapannya. Bila kelompok ini diturunkan ke jalan-jalan di Jakarta yang macet, pandangan orang akan sinis karena dianggap memamerkan moge (mobil gede), dan tidak mustahil malah menjadi sasaran orang mencari masalah. Dengan kata lain, pemerintah Indonesia dapat menggunakan potensi orang-orang cerdas dalam menjawab tantangan prestasi dalam konteks globalisasi, dan dilihat dari sudut motivasi mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mempunyai motivasi untuk menyelesaikan keruwetan domestik yang umumnya disebabkan oleh sistem dan etika yang tidak baik, yang menyebabkan mereka tidak dapat bersinar sesuai kecerdasan mereka. **
.
By Dr. Bayu Prawira Hie
.
Anggota Mensa Indonesia, Executive Director Intellectual Business Community.

(dimuat juga dalam Harian Seputar Indonesia, Minggu 1 Agustus 2010)

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google