Mensa, Organisasi Orang-Orang Pemilik IQ Tinggi yang Beranggota Profesor hingga Bintang Film Porno

Jawa Pos, Minggu, 25 Juli 2010 - Sebagai organisasi, Mensa tergolong unik. Anggotanya adalah orang-orang cerdas alias memiliki IQ tinggi. Sayang, di Indonesia potensi itu belum sepenuhnya tergali dan dimanfaatkan.

MULAI ada di Indonesia pada 1988, Mensa Indonesia bermula dari pertemuan orang-orang yang pernah mengikuti tes IQ (intelligence quotient) yang diadakan Mensa di luar negeri. Misalnya, Inggris dan Australia. Mereka lebih dulu menjadi anggota Mensa Internasional dan saling berkorespondensi.

''Dari situlah lalu tercetus untuk mendirikan Mensa Indonesia,'' ungkap Thomas Hanan Thoha, chairman Mensa Indonesia, di kantor PT Audex, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 22 Juli lalu.

Mereka lantas membuat peng­umuman di media massa hingga bisa menjaring 500 peserta. Tidak disangka, 300 orang atau separo lebih dari jumlah peserta dinyatakan lulus. ''Itu persentase tertinggi yang pernah terjadi,'' kata pria yang akrab disapa Tom itu, bangga.

Lalu, apa sebenarnya Mensa? Tom menuturkan, organisasi itu beranggota orang-orang yang memiliki IQ tinggi. Namun, sebenarnya Mensa hanya meng­identifikasi mereka yang memiliki nalar tinggi. Yakni, mereka yang IQ-nya berada di area dua persen teratas dari total populasi. Dengan kata lain, tingkat IQ mereka berada di atas 98 persen populasi.

Mereka yang dinyatakan lulus dan memiliki IQ tinggi bisa menentukan: bergabung Mensa atau tidak. ''Kalau hasilnya memenuhi syarat (untuk bergabung Mensa), tapi tidak masuk (Mensa), ya tidak apa-apa,'' terang Tom.

Nah, setelah menjadi anggota Mensa, mereka yang berinisiatif membentuk kelompok sesuai dengan interes masing-masing.

Misalnya, kelompok yang punya hobi masalah filsafat, hobi filateli, bahkan kesamaan hobi makan cokelat.

Dengan begitu, lanjut Tom, mereka yang memiliki interes yang sama di seluruh dunia bisa saling berdiskusi dengan sesama yang punya nalar tinggi. ''Komunikasinya lebih terbuka. Tidak perlu sungkan-sungkan,'' ujar pria yang lahir di Tanjung Karang, Lampung, itu.

Dia menjelaskan, Mensa didirikan di Inggris pada 1946 oleh Roland Berril dan Dr Lancelot Ware. Dua orang itu memiliki perhatian tentang inteligensi dan berkeinginan membuat wadah tersendiri. ''Tapi, muncul pertanyaan, bagaimana mengukurnya? Lalu, dilakukanlah tes IQ ini,'' terang Tom.

Hasil tes itu dianalisis secara akademik, lalu bagaimana nalar yang tinggi tersebut bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan standar hidup manusia. Hingga saat ini Mensa memiliki lebih dari 100 ribu anggota di seluruh dunia. Mensa berasal dari bahasa Latin yang berarti meja. Filosofinya, seluruh anggota organisasi ini sama. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.

Anggota Mensa beragam latar belakang. Dari anak SMP, doktor, profesor, mahasiswa yang tak menyelesaikan studin, bahkan bintang film porno.

Tom menerangkan, materi tes IQ yang diadakan Mensa mengikuti standar resmi yang diakui secara internasional. Tes juga tidak menggunakan bahasa, tapi hanya berupa gambar-gambar.

''Bisa saja materinya sama dengan tes-tes IQ yang ada. Yang jelas, diakui secara resmi internasional di dunia psikologi," urai Tom yang mengikuti tes IQ Mensa di Australia pada 1981. Berapa IQ Tom saat itu, dia tidak mau berterus terang. Dia hanya tersenyum. ''Itu rahasia,'' ujarnya.

Tentang berapa batas IQ seseorang dikatakan tinggi sehingga bisa masuk menjadi anggota Mensa, Tom tidak bisa menyebutkannya. ''Kenapa tidak mau menyebutkan berapa batas IQ, karena setiap saat berubah,'' terangnya.

Misalnya, IQ 130 pada tahun tertentu berdasar populasi sudah dianggap tinggi. Namun, sepuluh tahun kemudian angka yang sama bisa jadi tidak masuk area dua persen teratas. Demikian pula seseorang yang sudah mengikuti tes IQ dan memenuhi syarat menjadi anggota Mensa tetap masuk menjadi anggota Mensa meski area dua persen itu berubah. ''Karena sudah ditentukan (ukurannya) pada saat dia mengikuti tes itu," kata Tom.

Di Amerika, Tom mencontohkan, Mensa amat populer dan sangat aktif. Bahkan, hampir di setiap negara bagian ada dengan total anggota mencapai 50 ribu orang. "Pemerintah di Amerika juga mengundang anggota Mensa Amerika untuk ikut menyelesaikan masalah," terang ayah tiga anak itu. Di sana, seperti sudah terjalin kemitraan antara pemerintah dan Mensa.

Tom mengungkapkan, IQ yang ada pada diri setiap orang merupakan potensi untuk membantu mencari solusi problem suatu negara. Misalnya, persoalan-persoalan perkotaan, seperti kemacetan dan sampah.

Bagaimana di Indonesia? Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia itu mengatakan, setelah tes pada 1988, Mensa Indonesia sempat vakum. Pada 1996 Mensa Indonesia mencoba aktif lagi. "Setelah dinotariskan, terjadi krismon, tidak ada kegiatan lagi," ungkap Tom.

Baru kemudian, Chairman Mensa Pakistan Hasan Zuberi yang berkunjung ke Jakarta menyarankan Tom mengaktifkan Mensa Indonesia lagi. "Sebab, menurut dia, di Indonesia sangat berpotensi," katanya.

Indonesia disebutnya sebagai sumber data terpendam yang belum tergali. Sayangnya, banyak orang pintar di Indonesia yang memilih ke luar negeri. Atas saran Hasan Zuberi, jadilah Tom bersama Direktur Development Mensa Indonesia Liliana, serta beberapa anggota Mensa Indonesia lain mengadakan tes IQ berstandar Mensa Internasional di kampus Bina Nusantara (Binus), Senayan, pertengahan Juli lalu.

''Tapi (tes) itu sifatnya masih trial. Nanti kami adakan lagi setelah Lebaran," kata Tom.Hasil tes itu dikirimkan ke Inggris dan hasilnya langsung disampaikan ke peserta tes. Setelah itu, jika memenuhi syarat, peserta yang menentukan untuk bergabung ke Mensa atau tidak.

Sebagai organisasi yang memiliki latar belakang beragam, Mensa juga memiliki keunikan lain. Yakni, tidak ada yang menjadi ketua. "Kalau di organisasi lain orang berjuang unutk menjadi ketua, di sini malah tidak ada yang mau," katanya.

Alhasil, Tom menjadi ketua sejak Mensa Indonesia dinotariskan pada 1996. "Sebelum 1996, sudah menjadi ketua Mensa Internasional di Indonesia," ungkapnya.

Tom menjelaskan, meski seseorang memiliki IQ tinggi, hal itu bukan patokan akan keberhasilannya. Sebab, diri seseorang juga didukung kemampuan lain, seperti emosional, spiritual, dan sosial. "IQ itu hanya sebagian kecil. Perlu dilihat secara keseluruhan," ujar Tom yang menginginkan Mensa bisa berpartner dengan pemerintah. (*/c2/ari)
.
by NAUFAL WIDI A.R., Jakarta
Jawa Pos
.

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google