Pengembangan Anak Cerdas Bukan Proyek Mercusuar

Pengembangan anak-anak cerdas istimewa atau berbakat istimewa tidak mesti dilaksanakan sebagai proyek mercusuar yang terpisah dari sistem pendidikan yang ada. Upaya ini supaya tidak ada kesan diskriminasi dalam layanan pendidikan bagi semua anak bangsa.

”Memang perlu ada skenario dan komitmen yang sungguh- sungguh dari pemerintah dan masyarakat untuk bisa mengembangkan keunggulan anak-anak yang istimewa tersebut. Namun, kebijakan ini tetap didasarkan pada pegangan bahwa setiap anak harus mendapatkan layanan pendidikan sesuai kebutuhannya,” ujar Amril Muhammad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas/Berbakat Istimewa (Asosiasi CB/BI) di Jakarta, Senin (2/2).

Kenyataannya, kata Amril, sampai saat ini memang apa yang diberikan untuk anak-anak cerdas istimewa masih belum sesuai dengan kebutuhan mereka yang lebih dari anak-anak lain. Untuk jangka panjangnya, pemerintah pun belum punya skenario bagaimana anak-anak cerdas istimewa itu bisa berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

”Yang perlu sekarang ini dibuat pemetaan, baik soal keberadaan anak-anak itu, pengembangan yang sudah dilakukan, layanan yang diberikan, untuk tahu perbaikan yang dibutuhkan sehingga anak-anak ini bisa membantu untuk membangun Indonesia sebagai negara unggul di masa depan,” ujar Amril.

Dalam Seminar dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi CI/BI pada 30 Januari -2 Februari terungkap bahwa penanganan terhadap anak cerdas dan berbakat istimewa tidak cukup hanya aspek akademisnya saja. Penanganan yang terlalu berpusat pada aspek akademis malah dapat membawa stres.

Psikolog Rah Madya Handaya mengungkapkan, dalam bidang akademis sumber stres ialah padatnya jadwal belajar, tuntutan dan tekanan mempertahankan prestasi, serta kurang matangnya anak untuk belajar secara mandiri. Selain itu, sumber stres juga bisa berasal dari kehidupan sosial, seperti kurangnya waktu beraktivitas dengan teman, kehilangan waktu bermain, dan tidak ada kesempatan mengembangkan potensi non-akademik. Termasuk juga penolakan dari siswa yang lebih tua saat memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

Secara emosional, mereka juga rentan karena memiliki beban psikologis untuk terus berprestasi. (ELN/INE)

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google