Otak Besar Tak Selalu Jenius

Ukuran yang besar belum tentu berarti segalanya saat kita membicarakan tentang evolusi otak. Itu yang dikatakan oleh para ahli.

Dari hasil riset di Inggris, seperti yang dilansir dari BBC, Selasa (11/06/08) meningkatnya kompleksitas hubungan antara sel-sel otak bisa jadi merupakan dorongan terbesar evolusi tersebut. Hasil penelitian tentang sifat dasar otak menemukan perbedaan yang mendasar antara saluran penghubung otak mamalia, serangga, dan makhluk hidup bersel satu.

Perubahan yang terjadi selama jutaan tahun itulah yang lebih penting daripada ukuran otak.

Nenek moyang kita di zaman prasejarah, seperti Homo Erectus, memiliki ukuran otak yang jauh lebih kecil daripada manusia modern. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa ukuran otak manusia mengalami sebuah evolusi yang bermanfaat. Namun evolusi ini juga cukup mengundang resiko yang merugikan, terutama resiko selama melahirkan anak karena jumlah energi yang dibutuhkan agar otak tersebut terus membesar juga meningkat.

Meskipun begitu, riset dari Institute Sanger di Cambridge dan Universitas Keele dan Edinburgh menunjukkan sesuatu yang lain. Mereka mengatakan bahwa kunci evolusi tersebut bisa jadi bersandar pada hal yang lebih besar daripada sekedar peningkatan jumlah sel otak.

Saat melihat bagian sinapsis, yaitu penghubung antara sel-sel sistem syaraf, dengan lebih mendalam pada

jamur bersel satu, lalat buah, dan tikus, ternyata mereka menunjukkan tiga tahap evolusi hidup yang berbeda.

Untuk informasi, terdapat 600 protein yang ditemukan di dalam sinapsis mamalia. Namun yang mengejutkan, hanya separuhnya yang ditemukan pada lalat buah, dan hanya 25% pada sel jamur yang tidak punya otak tersebut.

Karena itu, mereka berpendapat bahwa kemajuan besar di dalam evolusi, dari sel tunggal menjadi sel banyak, dan perubahan antara invertebrata dan vertebrata memang dipengaruhi oleh perubahan kompleksitas sinapsis yang begitu cepat.

"Ukuran memang bukan segalanya, ikan paus dan gajah saja memiliki otak yang lebih besar dari manusia. Riset terbaru ini menunjukkan bahwa kita dapat lebih banyak mempelajari bagaimana cara sinapsis bekerja untuk memperbaiki pemahaman kita akan kompleksitas otak."

Namun memang benar saat kita membicarakan tentang intelijen, bagian otak manusia yang memang lebih besar itu yang memberikan perbedaan," kata Dr Hugo Spiers, ahli sel otak dari University College London.
.
Sumber : kapanlagi.com

2 komentar:

Ferdiantono Zheng mengatakan...

Posting yang bagus, memang ukuran bukan menjadi satu-satunya penentu intelijensi, tapi juga bagaimana cara kita menggunakan otak. Saya pernah membaca kalau otak kita akan semakin menurun fungsinya apabila tidak sering diasah.

Btw, saya tertarik bergabung dengan Mensa Indonesia dan ingin tahu lebih jauh mengenai prosedur untuk masuk menjadi anggota. Yahoo group dan friendsternya sudah saya request, saya tunggu balasannya :)

Terima kasih.

- Ferdiantono

Ivvan Machyuddin mengatakan...

I agree with the opinion that a big posting of brain doesn't mean genius,studies have found that thickness of the human cerebral cortex mostly define positive association of the intelligence.

Bravo Mensa Indonesia
I'm looking forward to hear more progresses from Mensa Indonesia

Google Search Engine
Google