Kecerdasan Majemuk dan Penjurusan di SMA/MA

Kita mengenal adanya kecerdasan majemuk yang berarti ada lebih dari satu jenis kecerdasan pada diri setiap orang. Kecerdasan ini terdiri dari:

1). kecerdasan linguistik,
2). kecerdasan matematika dan logika,
3). kecerdasan visual dan spasial,
4). kecerdasan musik,
5). kecerdasan interpersonal,
6). kecerdasan intrapersonal,
7). kecerdasan kinestetik dan
8). kecerdasan naturalis.

Walaupun setiap orang memiliki kecerdasan majemuk pada diri mereka namun kadarnya berbeda-beda. Ada individu yang menonjol kecerdasan musik dan kinestetiknya tetapi lemah pada kecerdasan matematika dan logika. Sebagian lagi memiliki kecerdasan visual dan spasial yang istimewa tetapi memiliki kecerdasan linguistik yang terbatas.

Pada dasarnya setiap orang akan memiliki beberapa kecerdasan yang lebih menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Kecerdasan ini apabila dikembangkan dengan baik akan mampu melejitkan potensi orang tersebut secara maksimal yang pada gilirannya akan memberikan manfaat baik bagi diri mereka sendiri dan juga bagi lingkungan, bangsa dan negaranya. Menarik untuk kita lihat apakah pemerintah sudah memberikan perhatian akan adanya keragaman jenis kecerdasan ini di sekolah terutama di sekolah lanjutan tingkat atas yang sudah mengadakan penjurusan bagi siswa-siswanya.

Di sekolah lanjutan tingkat atas baik di SMA (Sekolah Menengah Atas) maupun di MA (Madrasah Aliyah) diadakan penjurusan di kelas XI. Jurusan yang ada pada saat ini yaitu: jurusan Bahasa, jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan jurusan Agama yang hanya ada di MA. Dengan penjurusan ini pemerintah sudah mengakui adanya kecerdasan majemuk. Namun demikian pemerintah hanya mengakomodasi sebagian dari kecerdasan majemuk tersebut dan sebagian lainnya tidak mendapatkan tempat di dalam sistem pendidikan nasional yang pada tingkat SMA/MA tersebut.

Akibatnya adalah seorang siswa yang memiliki kecerdasan lain yang tidak diakomodasi di dalam sistem pendidikan akan memiliki hambatan dalam proses belajar dan pengembangan potensi dirinya.

Kita ambil satu contoh seorang siswa yang kegemarannya adalah olah raga. Siswa ini memiliki kecerdasan kinestetik dan kecerdasan visual yang tinggi tapi tidak dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal karena tidak adanya jurusan olah raga di SMA/MA.

Sebagai akibatnya ia akan memilih satu diantara beberapa jurusan yang ditawarkan dengan berat hati. Dalam proses belajar mengajar di sekolah siswa ini mungkin akan diberi label siswa nakal atau siswa malas karena ia hanya ingin bermain sepak bola, bola basket dan bola volley saja sepanjang waktu istirahatnya bahkan sepanjang hari yang mengakibatkan ia berada di halaman sekolah di jam pelajaran lain dan bukannya duduk manis di dalam kelas.

Ini tentu saja perbuatan yang dianggap salah dan layak diberi hukuman menurut aturan umum yang berlaku di sekolah. Bila ia keseringan mendapatkan hukuman maka ada kemungkinan siswa tersebut akan mendapatkan teguran dan peringatan yang pada akhirnya berujung dikeluarkannya dari sekolah tersebut. Bilapun ia tidak dikeluarkan dari sekolah tantangan besar tetap menghadangnya. Di tingkat akhir ia akan berhadapan dengan Ujian Nasional yang pada saat ini adalah sebagai salah satu penentu kelulusannya dari SMA/MA.

Karena ia mengambil jurusan yang bukan dari kemampuan dan potensi terbaiknya maka ada kemungkinan ia akan mengalami kegagalan dalam menempuh ujian tersebut. Ia akan gagal bukan karena ia bodoh melainkan karena sistem pendidikan nasional kita belum mengakomodasi seluruh jenis kecerdasan yang ada.

Itu hanya satu contoh. Bagaimana dengan mereka yang memiliki bakat besar di bidang musik, seni dan bidang-bidang khusus lainnya. Apakah potensi-potensi besar mereka harus layu sebelum berkembang? Kita tentu tidak ingin calon orang-orang besar ini mengalami kegagalan dan hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja nantinya.
Bagaimana agar potensi emas siswa-siswa kita ini dapat berkembang secara maksimal? Tentunya ini tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, guru, orang tua dan seluruh lapisan masyarakat tentunya.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan tentunya diharapkan membuat kebijakan yang lebih berpihak kepada siswa karena para siswa memiliki keragaman baik dari cara belajar, minat, bakat dan kecerdasan mereka.

Oleh karena itu penjurusan di SMA/MA sebaiknya ditambah beberapa lagi dari sebelumnya yang sudah kita kenal selama ini yaitu IPA, IPS, Bahasa dan Agama. Jurusan baru itu antara lain jurusan olah raga dan seni. Karena banyak dari siswa yang memiliki potensi di dua bidang tersebut.

Bila sekolah memfasilitasi dengan baik maka suatu saat nanti potensi anak didik kita ini akan dapat mengharumkan nama bangsa ini pada jenjang yang paling tinggi.
Orang tua bersama guru diharapkan mampu melihat bakat dan potensi anak sejak dini dan secara tepat. Dengan demikian anak dapat diarahkan memasuki jurusan yang benar-benar cocok dengan bakat, minat dan kecerdasannya yang membuat ia nyaman dalam belajar dan mengembangkan dirinya.

Bila semua siswa belajar dan mengambil jurusan yang sesuai maka kesuksesan mereka tentunya hanya menunggu waktu saja.

Sumber : SANDY GUSWAN CWB
Guru MAN 2 Model Banjarmasin
E-mail: sandyguswan@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google