Orang Indonesia Sudah Cerdas Sosial dan Emosional?

.
Orang Indonesia banyak yang pintar dan berpendidikan tinggi. Banyak yang lulus cum laude, menjadi juara tingkat internasional, dan sebagainya. Pengusaha sukses, artis berbakat, ilmuwan genius, politikus andal. Semua kita miliki. Tapi mengapa bangsa kita "begini-begini" saja? Apakah kita bermasalah dengan kecerdasan sosial dan emosional?
.
Seorang sahabat pernah berkata, "Orang Indonesia itu banyak yang mengejar skill dan knowledge saja, tapi behaviour-nya nol." Sahabat tersebut sendiri berpendidikan S3, namun setahu saya behaviour alias perilakunya cukup baik. Yang dimaksud dengan perilaku nol adalah, banyak orang berpendidikan tinggi tapi kurang mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain aibat berperilaku kurang menyenangkan. Jika boleh disimpulkan, banyak orang sekadar mengejar Intelligence Quotient (IQ) tapi mengesampingkan Emotional Quotient (EQ), yakni kecerdasan emosional.
.
Interpersonal
.
Walau baru digulirkan secara populer oleh Daniel Goleman melalui bukunya Emotional Intelligence pada awal tahun 2000, sesungguhnya konsep kecerdasan emosional bukan barang baru. Akar dari konsep ini berasal dari Charles Darwin yang digagas dari pentingnya ekspresi emosional bagi adaptasi dan pertahanan. Awal 1920-an, E. L. Thorndike dari Columbia University, menggunakan terminologi kecerdasan emosional untuk menjelaskan keahlian memahami dan mengatur manusia lain oleh manusia.
.
Kecerdasan sosial dipaparkan oleh Goleman sebagai hubungan interpersonal, baik buruk atau baik, memiliki kekuatan untuk membentuk otak kita dan memepangaruhi sel-sel tubuh. Lebih jauh, hubungan ini berimbas pada sistem imunitas dan usia manusia.
.
Di era modern ini, kebutuhan akan kemampuan berperilaku positif makin disadari di samping sekadar pendidikan tinggi intelektual. Maka bermunculanlah sekolah kepribadian, kursus table manner, dan sebagainya, demi menghasilkan manusia yang bukan saja cerdas intelektual, tapi juga emosional dan sosial. Namun, apakah betul semua pendidikan perilaku tadi menjamin seseorang akan memiliki EQ yang baik?
.
Sahabat lain pernah beropini bahwa sekolah kepribadian hanya sekadar memberi dasar-dasar etika, norma-norma dan standar perilaku yang baik. Selebihnya akan kembali kepada manusianya, apakah memang mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya atau tidak. Jika tidak, kendati mengecap pendidikan kepribadian sampai puluhan tahun pun, kecerdasan emosionalnya tak membaik dan perilakunya tetap saja tak sesuai yang diharapkan.
.
Saya setuju, bahwa sekolah kepribadian sekadar pemoles belaka. Tutur kata halus, sopan santun, lemah gemulai, pandai bermain kata, menurut saya bukanlah jaminan bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. Sebab buktinya di sekitar kita banyak manusia dengan penampilan santun dan tutur kata manis, nyatanya tak sejalan dengan moralitasnya. Katakan saja, banyak orang bertutur kata halus dan santun namun diam-diam masih korupsi, memfitnah, bahkan menjadi dalang kejahatan. Hal seperti ini pastinya jauh dari pemahaman manusiawi alias humanis.
.
Motivator
.
Hal serupa terjadi pada beragam kursus yang ditawarkan para motivator yang kini bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama Mario Teguh, Andri Wongso, atau yang lebih mengarah ke etika bisnis seperti Hermawan Kertajaya, Reinald Khasali, Safir Senduk, dan banyak lagi. Betul, mereka memberi panduan bagaimana mengendalikan kecerdasan emosional, mengembangkan kecerdasan sosial, menumbuhkan motivasi positif. Tapi apakah sebuah jaminan seseorang akan memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang baik setelah mengikuti semua pengarahannya?
.
Orang dengan kecerdasan emosional dan sosial rendah, cenderung sulit berinteraksi dengan sesamanya. Kalaupun bisa, tentu dengan tingkat pemahaman yang rendah. Bisa dicontohkan, orang yang hebat di bidang politik, tapi kurang peka pada masalah sosial. Atau orang yang mahir 10 bahasa, menguasai semua program komputer, namun tak mampu memahami perasaan lawan bicara. Bisa juga pengusaha sukses, canggih dalam berbisnis, sayangnya tak peduli bahwa di luar sana banyak orang jadi korban bisnisnya. Dan seterusnya. Itulah yang kita alami saat ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah IQ-nya rendah, pendidikannya rendah, plus EQ rendah pula? Namun di sisi lain, saya yakin, manusia dengan IQ dan pendidikan rendah masih bisa sukses hidupnya jika memiliki EQ dan SQ yang baik. Bahkan lebih sukses dari yang ber-IQ tinggi tapi EQ dan SQ-nya rendah.
.
Orang Indonesia pintar, berpendidikan tinggi, andal berpolitik, sukses berbisnis, sudah banyak sekali jumlahnya. Tapi apakah mereka punya kecerdasan sosial dan emosional yang mampu membuat bangsa ini lebih baik? Maaf, kecerdasan sosial, emosional dan intelektual saya pribadi juga masih rendah. Mari kita bersama-sama memperbaikinya.
.
Sumber : Merry Magdalena, www.netsains.com

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google