Apakah Anak Anda CERDAS ?

Apakah menjadi juara kelas jaminan hidup sukses di masa depan? Belum tentu. Menjadi juara kelas membutuhkan disiplin, kerajinan, dan effort. Hal-hal itu mutlak dibutuhkan untuk masa depan. Tapi sukses juga butuh kecerdasan sosial, pertemanan, dan street smart. Hal-hal ini tidak akan didapat hanya dengan duduk dan membaca buku semata.
.
Itu mungkin sebabnya semakin banyak sekolah menghapuskan sistem rangking. Mereka sadar bahwa ranking bukan saja menyebabkan para orangtua berubah menjadi manusia-manusia buas nan ambisius, tetapi juga berpotensi membutakan si anak. Seakan-akan kunci sukses di dunia nyata semata-mata karena matematika dan verbal-linguistik. Ada kesenjangan antara parameter prestasi di sekolah-sekolah dan dunia nyata.
.
Sekolah zaman dulu menekankan pada kemampuan matematis dan bahasa, baik verbal atau pun tulisan. Itu terlihat antara lain dari diberlakukannya test IQ. Padahal, menurut ahli pendidikan modern Howard Gardner, kecerdasan tiap anak berbeda-beda. Bagaimana dengan mereka yang tidak pandai bertutur melalui bahasa cakap dan tulisan. Juga mereka yang tidak dikaruniai bakat matematika? Di sekolah, anak-anak seperti ini akan dicap bodoh. Padahal bahasa cuma masalah komunikasi dan matematika adalah alat berpikir. Dunia lebih luas dan lebih kompleks daripada bahasa dan matematika tok.
.
Jadi kalo anak Anda saat ini kelihatan biasa-biasa saja, jangan panik! Kemungkinan besar ia berada di sekolah yang salah, atau bakatnya tidak terukur dalam parameter-parameter pendidikan yang tersedia. Sekolah yang salah berarti tidak memberi ruang bagi kemungkinan intelegensia lain di luar bahasa dan matematika. Ini fatal. Cari sekolah baru yang paham teori pendidikan adalah solusinya.
.
Menurut Gardner, setidaknya ada 7 kecerdasan anak-anak. Dua diantaranya sudah terpetakan oleh para pendidik di masa lalu, yakni kemampuan linguistik dan kecerdasan logika-matematika. Tapi masih ada 5 kecerdasan lainnya, yakni musik, gerak tubuh, spatial atau visual, interpersonal, dan intrapersonal. Sesudah bukunya Frames of Mind (1983) terbit, ia masih menyisakan ruang yang belum usai bagi 3 kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan naturalistik, spiritual, dan eksistensialistik. Meski yang sudah ditambahkan secara resmi dalam daftar itu baru satu, yakni naturalistik. Sehingga total ada 8 jenis kecerdasan menurut Gardner.
.
Kedelapan kecerdasan itu membaur menjadi satu. Mereka tidak berdiri sendiri-sendiri. Setiap anak memiliki kedelapan-delapannya sekaligus, meski yang menonjol mungkin hanya satu atau dua. Tetapi tidak mungkin memaksakan hanya matematika dan bahasa saja. Anak-anak dengan bakat menonjol di bidang-bidang lain perlu mendapatkan rangsangan secukupnya sebelum akhirnya kita sebagai orangtua bisa menemukan bakatnya yang sesungguhnya.
.
Karena itu, selain pelajaran-pelajaran resmi di sekolah, yang sudah mencakup kecerdasan matematika, bahasa, dan mungkin sedikit musikal serta gerak tubuh, orangtua perlu membimbing anaknya di rumah, dan memberi les tambahan guna merangsang tumbuhnya kecerdasan-kecerdasan tersembunyi, seperti spatial/ruang, gerak tubuh, interpersonal, dan intrapersonal, serta naturalistik.
.
Intelegensia spatial/ruang bisa dilatih dengan memasukkan dia ke dalam kegiatan pramuka. Disana, kebiasaan untuk membaca peta, meninggalkan jejak di alam, dan kode-kode rahasia menumbuhkan rangsangan pada kecerdasan ini. Wilayah gerak tubuh diberi vitamin dengan les balet, bersepeda, bermain game, melakukan permainan tradisional, dan les renang.
.
Keterampilan personal bisa dilatih dengan terbiasa menang-kalah dalam sebuah permainan. Berkelahi kecil-kecilan pun termasuk dalam menumbuhkan ketrampilan ini. Di usia dewasa nanti bakat berkelahi digantikan dengan kemampuan untuk bernegosiasi, mengenali bahasa tubuh lawan saat melakukan penjualan atau presentasi. Sedangkan naturalistik bisa dirangsang dengan mengenali tanda-tanda alamseperti bentuk dan warna awan serta hawa angin saat hendak turun hujan.
.
Sumber: 3636, November 2007

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google