IQ dan Korelasinya

Coretan Sederhana

Mengikuti seminar Homeschooling hari ini, mendengarkan bu Emmy membahas tentang IQ yang hanya mempengaruhi 20% dari keberhasilan hidup kita, membuatku terkenang dengan pengalamanku dan tes IQ.

Seperti biasa, menjelang masa akhir SD - sekolah biasanya mengadakan tes IQ untuk murid-muridnya. Ternyata IQ aku 138. Dan itu menggegerkan guru dan temen-temenku. Pasalnya aku bukan termasuk anak pinter, he he he.. Sedangkan temanku Umar yang selalu juara pertama IQnya 139. Sejak itu aku selalu jadi bulan-bulanan ejekan temen-temenku... "Cie, 138 nih yee.. Kok goblok yaa??".. he he he... serius lho.. Ejekan ini nggak berhenti di SD aja. Ketika SMA, aku kembali satu sekolah dengan Umar. Dan dari 500 anak satu angkatan dia tetep nomer 1!! (sakti bener nggak sih??).. sementara aku? 20 besar di kelas aja nggak, he he he... Waah, mantan temen-temen SDku yang sekarang kembali satu SMA sibuk "menceritakan" ke teman-temanku yang lain kalau "Lala itu sebenernya IQnya beda tipis sama Umar, tapi ternyata nasibnya beda jauh". He he he... sialan euy!!

Itu lebih dari 10 tahun yang lalu. Waktu itu penilaian orang tentang "kecerdasan" hanyalah dari keberhasilan akademis semata. Seorang anak dianggap pandai/cerdas bila berhasil mendapatkan rangking yang bagus, menjuarai perlombaan ini dan itu. Aku juga nggak ngerti dari mana angka 138 itu, bisa jadi hasil tesku tertukar dengan hasil tes anak lain. Yang jelas aku nggak pernah merasa menonjol secara akademis. Nilaiku biasa-biasa aja... yang penting lolos.. ^_^

Jadinya, karena begitu... waktu itu orang betul-betul "terlihat" heran ketika melihat aku tidak 'bersinar' sebagaimana 'seharusnya'. Untung kedua orangtuaku bukan tipe orangtua yang memaksakan prestasi anak. Hasil IQ itu tidak pernah dijadikan legitimasi oleh mereka untuk memaksaku berprestasi. Mereka tidak pernah melihat ketidak berhasilanku secara akademis itu karena "malas mempergunakan otak". Bahkan mereka (rasanya) tidak menganggap IQ itu sebuah hal yang penting. Walaupun bapak dan ibu guruku di sekolah mempertanyakan kepada mereka, "Kenapa Lala yang IQnya tinggi tidak bagus nilai pelajarannya ya bu??". Ibuku tenang-tenang aja... thanks God.

Waktu aku mendaftar program pertukaran pelajar, salah satu tes terberat itu adalah tes IQ. Dari Jakarta cuman lolos 5 orang, dan aku termasuk di dalamnya. Apakah itu karena tes IQ?? Kalau IQku itu 'memang bagus' -- mengapa aku tidak merasakannya di dunia nyata?? (baca: akademis). Waktu SMA hasil Psikotesku menunjukkan bahwa jurusan terbaik yang aku ambil adalah Aristektur. Begitu kuliah di Arsitektur UI, nilaiku ternyata... biasa-biasa saja (seperti biasa).. he he he... jadi bagaimana aku ini?? Guru Matematikaku pernah menegurku di depan kelas mengatakan, "Mira (nama sekolahku), kamu itu kayaknya pinter. Kalau ditanya ngerti, tapi kenapa kalau ujian nilainya nggak pernah jauh dari 5??" Nah lho?? Jangan-jangan aku memang punya kelainan..

Dan sekarang, Tuhan memberiku pekerjaan sebagai pekerja seni. Musik & aneka disain produk. Mungkinkah di sini sebenarnya letak kecerdasanku?? Sekarang ini, begitu aku mulai memahami teori Multiple Intelligence, kadang aku suka berharap, 'cobaa dari dulu orang tau kalau kecerdasan itu macem-macem... pasti aku kan nggak diledek teruss...'. Salah satu efek dari hasil tes IQku waktu SD itu, para guru menjelaskan seperti ini ke orangtua, "Tes IQ ini bukan jaminan lho bapak-bapak, ibu-ibu. Karena di murid kami, ada yang tes IQnya tinggi tapi berprestasi, tapi ada yang tes IQnya tinggi tapi ternyata tidak berprestasi. Semua itu tergantung anaknya". Was it good or bad?? Mungkin buruk buat 'nama baikku' karena kemudian bertrade-mark anak pinter yang malas. Tapi bisa juga dilihat positif.. memberikan 'kenyataan' bahwa IQ memang tidak selamanya menjadi jaminan kesuksesan akademis bagi seorang anak. Lala... Lala... kasian banget deh loe!!

Sumber : Lala
http://www.sumardiono.com/index.php?option=com_content&task=view&id=497&Itemid=143

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google