Lingkungan dalam Bahasa Anak

Bagaimana kita menerjemahkan isu lingkungan dalam bahasa yg bisa dipahami oleh anak? Kerusakan lingkungan-kita tahu-dapat menimbulkan bencana yang hebat.Indonesia sebenarnya sudah sangat kenyang dgn hal ini,tapi nggak pernah kapok kan?....Jadi, perlu dibukakan wawasan tentang bagaimana hidup"harmonis" serta "bersahabat" dgn alam.

Contoh sepele nih:Indonesia kan negara kepulauan,tetapi kok siswa yang masuk kejurusan ke LAUTan makin lama nggak ada. Tentu,kita tahu penyebabnya. lha wong di sekolah nggak ada pelajaran kelautan,bagaimana siswa bisa tahu, ngerti, apalagi suka dgn laut.Sekolah kita kan masih model era indusri yang mencetak pegawai. Karena itulah alam kita rusak, karena nggak pernah diajar untuk merawat dan memelihara alam demi kesejahteraan semua.

Tentang hak anak-anak kita sendiri,atau anak-anak perkotaan,acapkali ortu terlalu memaksakan "kehendak" demi(katanya) kebaikan si anak,dia les ini,les itu,sekolah ini dan itu,hingga anak ini mau belajar karena disetir ortunya. Hak anak untuk bermain,memilih, dsb tanpa disadari telah direnggut dengan cara yang sangat halus. Akibatnya, anak tdk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab, karena sejak kecil terlalu diatur, nggak kreatif juga,apalagi berani ber-inovasi. Sistem pendidikanpun juga ikut memperburuk kondisi ini.

Tantangan kita kedepan adalah,adanya generasi yang( mungkin) pandai secara akademik,tetapi tidak dewasa dan matang-karena salah asuhan tadi. Juga tdk mampu untuk membuat keputusan yang tepat,karena dari kecil sudah terbiasa "diatur" atau "didikte" baik oleh guru maupun ortu.

Bagaimana kita menyikapi anak-anak dengan kebutuhan yang beragam/berbeda(different ability. Mulai dari skala yang ringan sampai yg benar-benar serius,spt cacat fisik atau kelainan mental dan perkembangan. Biasanya anak-anak ini 'dilokalisasi' seolah diasingkan/dipinggirkan,dianggap pesakitan dan karenanya diperlakukan tdk seperti layaknya seorang anak,yang punya hak untuk bertumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri.

Model mainan dan bacaan anak cenderung berkiblat ke barat(western oriented. Apakah mungkin kita mulai memikirkan/ mencipta kan ttg "muatan lokal" shg wisdom lokal pun bisa tetap terpelihara sebagai nilai-nilai yg patut dilestarikan.

Perlu juga mulai mengkaji ulang visi misinya tentang pengembangan dan pendidikan anak. Untuk Invest dalam program2 anak. Mengapa? Karena dimasa yang akan datang,tantangannya adalah anak dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, untuk menguasai skill2 demi kesuksesan hidupnya. Ironisnya, saat ini kreativitas cenderung dimatikan,dan skill kurang dihargai, karena masih condong keurusan IQ dan akademik semata. Dimasa yang akan datang, anak akan diperhadapkan dengan keragaman. Jadi butuh kemampuan adaptasi yang baik.

Sumber : komunitasbonapasogit@yahoogroups.com

Tidak ada komentar:

Google Search Engine
Google